Sholat Kunci Kebahagiaan



SHOLAT KUNCI KEBAHAGIAAN

PENDALAMAN TERAPI SHOLAT BAHAGIA

Founder :  Prof Dr. H. Moh. Ali Aziz, M.Ag

Oleh : Silviana Novianti

PTSB merupakan kepanjangan dari Pendalam Terapi Sholat Bahagia, merupakan sebuah kegiatan yang memberikan bimbingan dan praktek sholat agar seseorang bisa memahami dan mengingatnya lebih kuat dan bisa memantapkan keyakinan akan kebesaran Allah, percaya diri, dan optimis akan penyelesaian semua masalah menuju hidup bahagia. Wajah penuh bahagia adalah cermin syukur kepada Allah. Hanya pribadi bahagialah yang bisa maksimal berkreasi, produktif dan membahagiakan orang lain.
Seperti apa yang dijelaskan oleh Prof Dr. H. Moh. Ali Aziz, M.Ag pada hari Sabtu tanggal 23 November ketika saya mengikuti kegiatan PTSB (Pendalaman Terapi Sholat Bahagia) yang bertempat di gedung beliau yang beralamat di Jl. Siwalankerto Tengah 66 Surabaya. Beliau menjelaskan bahwa tujuan sholat adalah kokohnya mindset T2Q (tawakal, tumakninah dan qona’ah), sedangkan kesembuhan, rizki dan sebagainya hanya bonus semata, sekalipun seua itu sangat kita butuhkan.
Beliau juga menjelaskan bahwa merubah mindset itu sangatlah penting, karena dengan merubah mindset dapat mengubah masalah yang berat menjadi masalah yang lebih ringan. Karena memang mindset itu sangat berpengaruh terhadap kegiatan seseorang.  Dan beliau juga mengatakn untuk selalu berlatih berpikiran positif. Dan menurut saya juga berlatih berpikir positif itu sangatlah penting karena dapat merubah seseorang menjadi lebih tenang dalam pribadinya, dan lebih ber hati – hati untuk mengambil sebuah keputusan.
Prof. Dr. H. Moh. Ali Aziz, M.Ag menjelaskan bhawa di dalam sholat bukan hanya tentang do’a dalam sholat dan gerakan saja, tetapi juag kita harus menyertakan renungan dalam hati. Beliau menjelaskan urutan – urutanyya yaitu :
1.      Do’a Sholat
2.      Renungan dalam hati
3.      Dilanjutkan gerakan sholat selanjutnya.
Perlu diperhatikan bahwa kegiatan rangkaian sholat diatas hanya boleh dilakukan untuk sholat sendirian, bukan untuk berjamaah. Perbanyak Do’a dalam shalat daripada setelahnya terutama pada saaat sujud kedua setiap rakaat/terakhir. Jagan sekaligus, programlah secara bertahap. Dan boleh menangis, serta memejamkan mata saat sholat. Dan perlu diperhatikan juga bahwa hal ini tidak boleh diucapkan, melainkan direnungkan dalam hati.
Belau juga menganjurkan untuk menyiapkan Daftar Anugrah (DA) yaitu apa saja nikmat besar Allah yang telah diberikan kepada diri kita, agar pernyataan syukur kita bisa terfokus selama shalat. Bukan hanya DA saja, kita juga perlu menyiapkan apa saja masalah hidup yang selama ini kita hadapi serta juga harapan kita. Dengan bantuan Daftar Masalah dan Harapan (DMH) yang telah disiapkan itu, kita bisa rukuk dan sujud lebih lama dengan penuh pengahayatan.
Di dalam buku panduan Pendalamn Terapi Sholat Bahagia (PTSB) yang diberikan oleh Prof. Dr. H. Moh. Ali Aziz, M.Ag pada saat saya mengikuti kuliah wada’ dan mengikuti kegiatan PTSB ada penjelasan tentang apa saja kalimat kunci Terapi Sholat Bahagia di dalam posisi – posisi sholat, yang menjelaskan :
1.      Posisi Berdiri : SUBHAN (Syukur, Bimbingan, dan Ketahanan Iman) yang memiliki rincian renungan / Do’a yang diucapkan dalam hati, dan tidak boleh diucapkan yaitu
1)      Syukur, “Wahai Allah, aku bersyukur atas semua nikmat-Mu,”
2)      Bimbingan : “bimbinglah aku dan keluarga agar tetap di jalan yang benar”
3)      Ketahanan Iman : “Berilah aku ketahanan iman untuk melawan hawa nafsu agar selamat dari kesesatan dan murka-Mu”
2.      Posisi Rukuk : TURUT (Tunduk; Menurut) yang memiliki rincian renungan / Do’a yang diucapkan dalam hati, dan tidak boleh diucapkan yaitu:
1)      Tunduk : “Wahai Allah, aku tunduk membungkuk kepada kehendak-Mu. Aku bertasbih dan menyerahkan hidup – mati, sehat – sakit, kaya – miskin, dan semua persoalan kepada – Mu.”
2)      Menurut : “Aku menurut kepada semua perintah-Mu. Ampunilah dosa – dosaku”
3.      Posisi I’tidal ; HADIR (Hak pujian, Takdir) yang memiliki rincian renungan / Do’a yang diucapkan dalam hati, dan tidak boleh diucapkan yaitu :
1)      Hak pujian : “Hanya Engkau yang berhak dipuji. Ampunilah aku karena terlintas mengharap pujian manusia”
2)      Takdir Allah : “Semua hal terjadi atas takdir-Mu, aku ridla dan ikhlas menerimanya”
4.      Posisi Sujud : MASJID (Maaf, Sinar, Jiwa dan Raga) yang memiliki rincian renungan / Do’a yang diucapkan dalam hati, dan tidak boleh diucapkan yaitu :
1)      Maaf : “Maafkan dosa – dosaku Bapak – Ibuku dan keluargaku.”
2)      Sinar : “Sinarilah hati, lidah, mata dan telingaku agar selalu berbuat yang Engkau ridlai”.
3)      Jiwa dan Raga : “Jiwa dan ragaku dalam kekuasaan-Mu. Aku serahkan hidup – mati, sehat – sakit, kaya – miskin dan semua persoalan kepada-Mu.
5.      Posisi Duduk Antara Dua Sujud : Aksi (Ampunan, Kasih, Sejahtera, Iman) yang memiliki rincian renungan / Do’a yang diucapkan dalam hati, dan tidak boleh diucapkan yaitu :
Wahai Allah, berilah aku : “Ampunan, kasih, sejahtera, dan Iman”
6.      Posisi Tasyahud : SOSIAL (Solawat, Persaksian, Tawakal)
1)      Sholawat : “Sholawat dan salam untuk Nabi SAW. berikan aku kekuatan menyontoh akhlaknya”.
2)      Persaksian : “Aku bersaksi, ‘Tiada Tuhan selain Engkau, dan Muhammad adalah utusan-Mu’. Jadikan syahadat pegangan dan penutup hidupku”.
4)      Tawakal : Aku serahkan hidup – mati, sehat – sakit, kaya – miskin dan semua persoalan kepada-Mu.
Bukan hanya itu saja, didalam buku panduan PTSB juga dijelaskan beberapa do’a ataupun renungan, diantaranya yaitu
1)      Wahai Allah, aku mempunyai masalah, yaitu......
2)      Wahai Allah, aku ikhlas, ridlo, tidak mengeluh atas masalah tersebut. Jika pernah mengeluh, itu karena kebodohanku. Ampunilah aku.
3)      Wahai Allah, aku yakin (3x) Engkau pasti (3x) menyayangi aku, dan tidak mungkin membiarkan aku sendirian menghadapi masalah dan harapanku itu.
4)      Wahai Allah, aku pasrah (3x); aku pasrahkan masalah tersebut kepada-Mu. Terserah Engkau, sebab Engkau pasti (3x) memberi yang terbaik untukku. Aku ikhlas apapun keputusan-Mu.
Pada hari itu di hari Sabtu disaaat saya mengikuti kegiatan PTSB, saya hanya menganggap kegiatan tersebut hanya sebagai kuliah wada’ untuk mata kuliah Ilmu Dakwah yang dibimbing oleh Prof. Dr. H. Moh. Ali Aziz, M.Ag. pada saat itu saya kembali ke Surabaya pada malam haridi hari Jum’at. Setelah itu esok harinya saya bangun pagi sekali untuk melaksanakan sholat subuh, lalu pergi untuk mandi dan setelah itu saya langsung berangkat ke gedung Prof Ali bersama teman saya.
Setelah sampai disana, saya bertemu dengan teman – teman saya, setelah itu saya dan teman – teman di persilahkan masuk ke gedung beliau. Saya duduk di bagian yang lumayan depan saat itu, dengan alasan agar saya tidak mengantuk.
Jam 07.00 kegiatan PTSB dimulai, kegiatan tersebut diawali dengan pengenalan profil Prof. Dr. H. Moh. Ali Aziz, M.Ag dan ada beberapa testimoni yang ditampilkan di slide dari orang – orang yang telah mengikuti kegiatan PTSB. Banyak orang – orang hebat yang telah mengikuti kegiatan PTSB, serta banyak juga orang yang hasil mengikuti kegiatan PTSB, mereka menjadi lebih tenang dan ada juga salah satu dari mereka yang berhasil sembuh dari sakitnya.
Kegiatan PTSB pada saat saya ikuti bukan hanya kegiatan seminar saja, tetapi didalamnya juga ada kegiatan praktek sholat, yang dimana dijelaskan bagaimana sholat yang benar itu agar mendapat ketenangan batin. Dan pada saat itu juga beliau menjelaskan bahwa sebaik – baiknya rencana manusia, rencana Allah itu masih lebih baik, Serta juga beliau menjelaskan bahwa kita tidak boleh berhenti berdo’a meminta sesuatu kepada Allah, karena Allah Maha mendengar dan Maha menngetahui. Dan kita harus bersabar atas permintaan kita, karena Allah memberikan sesuatu bukan apa yang kita inginkan, melainkan apa yang kita butuhkan. Dan bisa saja Allah tidak mengabulkan permintaan kita di dunia, tetapi nanti di Akhirat, kita akan mendapatkannya.
Beliau menjelaskan juga, bahwa pada saat sholat, semua oranng itu sama dimata Allah. Tidak ada yang kaya, tidak ada orang penting ataupun orang pintar, mereka semua sama. Mereka bertujuan sama,yaitu tunduk dan bersujud kepada Allah, tidak ada kasta diantara mereka. Tidak ada yang boleh menganggap bahwa dirinya lebih kaya dari yang lain ataupun jabatannya lebih tinggi daripada yang lain. Dijelaskan juga bahwa pada saat shalat kitra harus menyerahkan semua raga kitra untuk tunduk kepada Allah.
Pada saat itu juga beliau menjelaskan bahwa manusia tidak boleh banyak mengeluh, karena dengan mengeluh sama saja kita tidak bisa menerima takdir yang Allah berikan, tetapi kenyataannya saya masih banyak mengeluh tentang kehidupan ini, tetapi untuk saat ini saya berusaha untuk tidak banyak mengeluh, boleh saja mengeluh sedikit, tetapi kita tidak boleh menyerah, karena bagaimanapun juga kita manusia, dan kita bisa lelah, dan ada dimana satu sisi kita akan berada di titik lemah kita, dan pastinya kita akan mengeluh. Tetapi setelah itu saya berusaha untuk meminta ampunan kepada Allah karena sempat tidak menerima takdir yag diberikan oleh Allah kepada saya.
Setelah mengikuti kegiatan PTSB tersebut saya bisa lebih bersyukur atas nikmat yang diberikan oleh Allah, karena saya sadar masih banyak orang yang mengharapkan berada di posisi saya untuk saat ini, dan lebih ikhlas mebghadapi ujian yang diberikan oleh Allah, karena saya yakin Allah tidak akan memberikan ujian kepada hambanya diluar batas kemampuan hambanya.
Bukan hanya itu saja, setelah mengikuti kegeiatan PTSB saya lebih bisa menguatkan diri saya untuk menghadapi kerasnya dunia ini. Dan saya bangga kepada diri saya untuk sat ini, karena telah berhasil bertahan sampai detik ini menghadapi kerasnya dunia.
Banyak hikmah dan pelajaran yang dapat diambil setelah mengikuti kegiatan PTSB, saya menjadi lebih lega setelah mengikuti praktek terapi sholat bahagia, karena pada saat itu saya mencurahkan semua beban yang saya tanggung. Saya menangis sejadi jadinya pada saat itu, saya curhat kepada Allah, meminta ampunan terhadap sang kuasa, dan menyerahkan se4muanya terhadap Allah. Serta pada saat itu saya meyakinkan diri, dengan ucapan saya yakin yakin yakin bahwa Allah tidak akan meninggalkan hambanya sendirian.
Saya akan berusaha tehap demi tahap untuk menerapkan Terapi Sholat Bahagia ini, walaupun sulit, saya akan berusaha untuk mencobanya. Memang do’a yang baik itu saat didalam sholat, karena saya sudah merasakannya, bukan hanya berdo’a saja, tetapi juga untuk curhat kepada Allah disaat sujud terakhir pada sholat, terkadang saya sampai menangis hanya untuk merenungkan masalah saya pada saat itu, tetapi setelah itu saya lega karena telah mencurahkan semuanya kepada Allah, bukan hanya itu saja., curhat terhadap Allah rahasia kita akan terjaga, karena hanya saya dengan Allah yang tau.

Komentar